Selamat Datang di Blognya Para Pelaku Agribisnis

Sub Terminal Agribisnis (STA) Panumbangan Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat adalah institusi yang bergerak dalam bidang pelayanan pemasaran hasil pertanian. Namun dalam prakteknya STA pun turut serta dalam mengembangkan pemasaran di bidang-bidang lainnya, seperti peternakan, perikanan dan perkebunan.

Kami membuka pintu kerjasama selebar-lebarnya dengan berbagai pihak yang ingin sukses bersama kami mewujudkan Indonesia sejahtera melalui pengembangan pertanian, peikanan, peternakan dan perkebunan.

Untuk pihak yang tertarik bekerjasama dengan kami silakan menghubungi kapan saja di blog ini.

Terimakasih...

05/08/10

Cabe Goncang Gedung BI

"Jangan heran, harga cabe berpengaruh besar padaGedung BI ini". Itu kalimat pertama yang diucapkan oleh Miftah Budiman Pipimpinan P3UKM Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia Propinsi Jawa Barat dalam rangka kunjungan kerja Pengelola Sub Terminal Agribisnis (STA). Harga cabe menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi di Indonesia selain dari kenaikan harga beras, naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL), dan naiknya pajak kendaraan bermotor sebesar 30%, smua itu membuat daya beli masyarakat menurun.

"Apakah harga yang melambung ini dinikmati oleh petani? atau hanya oleh segelintir orang?". Pertanyaan yang beliau lontarkan kepada kami. Beliau sangat menyayangkan kalau petani tidak menikmatinya, ini menjadi dasar agar adanya dukungan semua pihak untuk mendukung peningkatan kesejahtraan petani termasuk yang berkaitan dengan bantuan pendanaan kepada para petani. Banyak perbankan yang menginginkan untuk memfasilitasi pembiayaan petani dalam bertani, namun dikarenakan kurangnya informasi dan pengetahuan kepada petani mengaibatkan petani kesulitan mengakses fasilitas tersebut.

Kedepannya diharapkan semua faktor pendukung peningkatan kesejahteraan petani dapat berperan lebih aktif, sehingga dapat mendukung penguatan ekonomi Indonesia.

26/07/10

Harga Cabai Naik Hingga 100 Persen

Sumber : Pikiran Rakyat

NURHANDOKO/"PRLM"
NURHANDOKO/"PRLM"
HARGA cabai di Kabupaten Ciamis terus naik dalam kurun waktu sepekan terakhir. Hal itu diperkirakan karena permainan para tengkulak yang sengaja mengurangi pasokkan cabai di pasaran. Naiknya harga cabai di Pasar Manis dan Pasar Subuh Ciamis, Senin (14/6) mencapai seratus persen.*

CIAMIS, (PRLM).- Harga cabai di Kabupaten Ciamis terus naik dalam kurun waktu sepekan terakhir. Hal itu diperkirakan karena permainan para tengkulak yang sengaja mengurangi pasokkan cabai di pasaran.
Naiknya harga cabai di Pasar Manis dan Pasar Subuh Ciamis, Senin (14/6) mencapai seratus persen. Diperkirakan harga cabai akan terus melambung seiring dengan berkurangnya pasokan.

Di tempat tersebut, pada awal minggu kedua bulanJuni harga cabai rawit hanya Rp 9.000, tetapi saat in sudah mencapai Rp 19.000 per kilogram. Cabai merah besar dari semula Rp 24.000 naik menjadi Rp 35.000. Sedangkan cabai hijau dari Rp 8.000 naik menjadi Rp 18.000.

"Sejak seminggu lalu sampai sekarang, harga cabai terus naik. Cabai merah keriting eceran sampai Rp 35.000 sedangkan jika membeli per kilogram Rp 32.000. Kalau kiriman berkurang, harga cabai pasti akan terus naik," ungkap Ny. Dede Ace (36) pedagang sayuran di Blok E Pasar Manis Ciamis.

Dia mengatakan selain cabai, harga bawang merah, tomat dan kentang, juga naik. Bawang merah yang biasanya Rp 8.000 sekarang sudah mencapai Rp 14.000/ kilogram, sedangkan kentang dari Rp 4.000 naik menjadi Rp 5.500/ kilogram. Sementara harga tomat semula Rp 4.000, naik menjadi Rp 8.000/kilogram. "Yang utung tetap tengkulak. Kalau di tingkat petani harganya mungkin naik, tetapi kenaikannya hanya sedikit. Kalau bisa sih harganya turun, kasihan yang mau beli," ungkapnya.

Sementara itu pedang sayuran di Pasar Subuh Ciamis, Muklis (55) mengungkapkan, naiknya harga cabai juga diimbangi dengan berkurangnya pasokan. Apabila sebelumnya mendapatkan pasokan dari pedagang besar sebanyak 20 kilogram per hari, sekarang hanya mendapatkan jatah sebanyak 10 kilogram. "Sejak seminggu ini pasokan cabai berkurang. Saya sudah minta agar jatahnya ditambah, tetapi tidak diberi oleh pemasok," ungkapnya.
Selain dari Ciamis, lanjutnya, cabai yang ada di pasar Manis dan Pasar Subuh Ciamis, berasal dari sentra cabai seperti Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur. Sedangkan bawang merah sebagian berasal dari Kabupaten Brebes, Prov. Jawa Tengah.

Pedagang lainnya, Ade (38) memperkirakan harga cabai akan terus melonjak. Hal itu, seiring dengan berkurangnya pasokan dari daerah penghasil cabai, akibat mulai terjadi pergantian musim. Masih turunnya hujan diselingi dengan cuaca panas, menyebabkan produksi atau hasil cabai berkurang.
"Saya kira turunnya produksi karena pengaruh cuaca. Biasanya bulan Juni memang harganya naik, dan bertahap menurun. Kemudian menjelang lebaran harga cabai kembali naik," tuturnya.

Kabid Perdagangan Hapid Wismansyah mengatakan, naiknya harga cabai salah satunya disebabkan berkurangnya pasokkan dari petani. "Mungkin karena mulai ada perubahan musim, produksi cabai jadi berkurang. Harga saat ini masih lebih murah dibandingkan menjelang lebaran," ujarnya. (A-101/das)***



25/07/10

Tiga Kecamatan di Ciamis Jadi Sentra Pertanian

CIAMIS,(PRLM).-Tiga kecamatan di Kabupaten Ciamis, yakni Kecamatan Rancah, Kawali dan Panumbangan akan dikembangkan menjadi sentra utama pengembangan pertanian, peternakan serta kawasan agropolitan. Hanya saja hal itu akan menemui hambatan apabila seluruh sektor yang ada tidak dapat bekerjasama atau kesepahaman dalam pengelolaan ketiga potensi unggulan wilayah tersebut.

Untuk Kecamatan Rancah potensi yang dikembangkan adalah bidang peternakan, terutama sapi potong, Kawali bidang pertanian seperti cabe, dan panumbangan agropolitan. Namun demikian tutur Kepala Badan Pelaksana Penyuluah Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Kabupaten Ciamis, Kuswara Suwarman, selain potensi unggulan tersebut juga masih dapat dikembangkan potensi pertanian maupun ternak lainnya. Dengan demikian nantinya dalam satu wilayah akan terdapat satu kesatuan pengelolaan.

"Akan lebih mudah dalam satu kecamatan itu, tidak hanya memfokuskan pada satu sektor saja, tetapi juga bidang pendukung, seperti untuk peternakan harus didukung pertanian untuk suplai makanan ternak. Hal itu juga akan berkembang dengan baik jika ada sinergitas antar komponen, pertanian, peternakan, perikanan dan lainnya,' tuturnya, Senin (4/5) usai mengikuti ekpos hari krida pertanian di Kantor BP4K Ciamis.

Dijelaskan konsep pengembangan agropolitan, yang saat ini mulai dikembangkan, juga harus dilaksanakan secara berimbang. Dalam arti tidak ada satu sektor yang yang tertinggal. Sebab apabila satu bidang tertinggal atau tercecer, maka akan berpengaruh atau menghambat pengembangan agropolitan secara keseluruhan.

"Kuncinya adalah sinergitas antar komponen. Konsep agropolitan berupa pengembangan wilayah perdesaan, juga harus dilakukan secara simultan atau terus menerus, seperti sektor pertanian dengan industri dan jasa terkait dengan pengembangan satu wilayah. Ibaratnya dalam satu kawasan tersebut mengusahakan komoditi dari hulu sampai hilir," jelasnya.(A-101/A-50)***

Harga Cabe Nyaris Duakali Harga Ayam

CIAMIS, (PRLM).- Harga cabe merah di pasar tradisional di Kabupaten Ciamis terus mengalami kenaikan. Sejak dua hari ini harga cabe merah bahkan sudah menembus Rp 40.000 per kilogram. Harga tersebut lebih mahal dibandingkan dengan daging ayam yang mencapai Rp 28.000 per kilogram.

Pantauan "PRLM" di Pasar Subuh dan Manis Ciamis, Kamis (8/7) menyebutkan, cabe merah masih cukup tersedia. Sejumlah pedagang mengatakan bahwa diperkirakan bakal terus naik. Selain cabe merah sejumlah komoditas hasil pertanian seperti sayuran juga naik.

Sebenarnya kenaikan harga cabe merah sudah berlangsung sejak pertengahan bulan Juni. Namun dalam dua hari terakhir mengalami lonjakan yang sangat tinggi, yakni dari Rp 35.000 per kilogram naik menjadi Rp 40.000 per kilogram. Demikian pula harga cabe hijau dari Rp 20.000 naik menjadi Rp 22.000/kilogram. Cabe rawit Rp 35.000/kilogram atau naik Rp 4.000 dari sebelumnya .

Sementara itu harga komoditas sayuran lainnya seperti kol, tomat juga naik berkisar antara Rp 400 - Rp 1.000 dari sebelumnya. Tomat Rp 5.000 naik dari sebelumnya Rp 4.000. Harga kol berkisar antara Rp 3.000 - Rp 3.500 per kilogram. Jengkol yang sebelumnya Rp 22.000 per kilogram naik menjadi Rp 24.000.

"Harga cabe sedang naik sekali. Dua hari terakhir sudah mencapai Rp 40.000 per kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp 35.000. Kami perkirakan keadaan ini akan bertahan sampai puasa," tutur Ny. Eneng (40) pedagang sayuran di Blok A Pasar Manis Ciamis.

Rata-rata per hari dia mampu menjual cabe sebanyak 10 kilogram. Barang tersebut dibeli dari pasar Cikurubuk, Tasikmalaya. "Dua hari sekali saya belanja cabe 20 kilogram di Cikurubuk. Sebelum harga naik maupun sekarang, 20 kilogram cabe dua hari pasti habis," tuturnya.

Kondisi berbeda dialami pedagang ayam. Naiknya harga ayam yang saat ini mencapai Rp 28.000 per kilogram, ternyata berpengaruh terhadap menurunnya pembeli. Menurut Muksin (39) pedagang ayam di Blok C Pasar Manis Ciamis, saat ini hanya memotong 40 ekor ayam per hari. Sebelum ada kenaikan harga, dia memotong sedikitnya 50 ekor ayam per hari.

Dia mengungkapkan harga ayam saat ini adalah paling mahal apabila dibandingan dengan waktu yang sama menjelang puasa tahun 2009. Pada saat itu, paling mahal hanya Rp 26.000 per kilogram. (A-101/das)***

60 Persen Petani tidak Nikmati Kenaikan Harga Cabai

60 Persen Petani tidak Nikmati Kenaikan Harga Cabai

CIAMIS, (PRLM).- Harga cabai di Kabupaten Ciamis terus melambung, di tingkat eceran sudah mencapai Rp 50.000 per kilogram. Diperkirakan harga cabai tidak segera turun, menyusul semakin berkurangnya pasokan cabai dari sentra produksi hasil pertanian tersebut.

"Curah hujan yang masih tetap tinggi, menyebabkan produksi cabai tidak optimal. Selain itu adanya serangan hama juga berpengaruh terhadap produksi cabai. Sesuai hukum pasar, barang yang berkurang, permintaan bertambah, maka harga naik," tutur Pengurus Asosiasi Agobisnis Cabai Indonesia Asep Halim, Sabtu (10/7).

Dia memperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung cukup lama, mengingat saat ini sebagian petani baru mulai menanam cabai. Naiknya harga cabai, lanjut Asep, tidak dinikmati oleh seluruh petani cabai. Saat ini petani cabai yang menikmati harga tinggi hanya sekitar 40 persen.

Petani cabai lainnya tidak bisa menikmati kenaikan harga tersebut. Mereka yang tidak menikmati kenaikan harga tersebut, karena baru mengawali penanaman, gagal panen dan lainnya. Apabila tidak ada gangguan, lanjut dia, panen raya cabai mendatang akan berlangsung pada bulan Oktober 2010.

"Saat harga cabai naik, justru sebagaian besar atau sekitar 60 persen petani cabai tidak menikmati kenaikan harga tersebut. Sebagian tidak menanam, sebagian terserang hama karena faktor cuaca dan lainnya. Yang untung besar adalah bandar," tuturnya.

Saat ini harga cabai merah di tingkat petani mencapai Rp 30.000 per kilogram. Sedangkan di pasaran induk naik menjadi Rp 35.000 per kilogram. Harga cabai di tingkat pasar biasa dan eceran sudah menembus Rp 45.000 - Rp. 50.000 per kilogram. Sementara itu harga cabai rawit, cabai hijau masih di bawah harga cabai merah.

Asep mengungkapkan sentra cabai di tatar Galuh Ciamis terdapat pada daerah yang terletak di kaki Gunung Sawal. Di antaranya Kecamatan Sukamantri, Panjalu, Panumbangan, Lumbung, Kawali, Cipaku, dan Cihaurbeuti. Dalam keadaan normal, bisa memasok cabai sebanyak 5 - 7 ton. Hanya saja saat ini hanya mampu menghasilkan sekitar 3-4 ton per minggu.

"Dari jumlah tersebut sebanyak 20 persen memenuhi kebutuhan lokal Ciamis, sedangkan lainnya dikirim ke luar Ciamis, seperti Bandung dan Jakarta," kata Asep yang juga Kepala Divisi pemasaran Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia. (A-101/das)***

Sumber: Pikiran Rakyat 11 Juli 2010

24/07/10

Kredit Diutamakan ke Sektor Produktif

PERBANKAN
Kredit Diutamakan ke Sektor Produktif
Sabtu, 24 Juli 2010 | 03:25 WIB

Jakarta, Kompas - Bank terbesar di Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk, terus mendorong penyaluran kredit, terutama ke sektor produktif dan mikro. Ini merupakan strategi utama untuk mencapai target transformasi Bank Mandiri 2010-2014, yakni memiliki kapitalisasi pasar Rp 225 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini, Jumat (23/7) di Jakarta, menjelaskan, posisi kredit hingga akhir Juni 2010 mencapai Rp 218 triliun, tumbuh 20 persen dibandingkan periode sama 2009, yakni Rp 181,6 triliun. Pertumbuhan kredit rata-rata perbankan nasional pada periode yang sama 19 persen.
Dijelaskan, kredit investasi tumbuh 28,3 persen dan kredit modal kerja tumbuh 17,3 persen. Pertumbuhan kredit tertinggi antara lain tercatat di segmen mikro, yakni 24,7 persen.
Guna mencapai kapitalisasi pasar Rp 225 triliun pada akhir 2014, menurut Zulkifli, langkah pertama yang diupayakan Mandiri adalah menumbuhkan kredit minimal 22 persen setiap tahun.
Berdasarkan perhitungan internal Mandiri, dengan pertumbuhan kredit itu, Mandiri akan menguasai pangsa pasar pendapatan industri perbankan 16 persen. Saat ini, pangsa pasar pendapatan Mandiri 12 persen.
Pertumbuhan kredit yang signifikan hingga triwulan II-2010 juga ditunjukkan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. Dirut BTPN Jerry Ng mengatakan, pertumbuhan kredit BTPN mencapai 64 persen sehingga total kredit menjadi Rp 19,7 triliun.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Muhamad Ali menjelaskan, BRI akan menyelenggarakan kegiatan bagi nasabah UMKM, yaitu ”Pesta Rakyat Simpedes 2010”, di 269 kota pada 10 Juli-8 Agustus. BRI akan mengenalkan layanan elektronic banking kepada masyarakat pedesaan. Hingga triwulan I-2010, outstanding tabungan Simpedes mencapai Rp 64 triliun dengan jumlah rekening
20,2 juta. (FAJ)

Sumber : Kompas 24 Juli 2010

Petani Nikmati Harga Padi

PANGAN
Petani Nikmati Harga Padi
Sabtu, 24 Juli 2010 | 02:56 WIB

Palembang, Kompas - Petani di Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, menikmati kenaikan harga beras produksi mereka yang dihargai lebih tinggi. Pada hari Jumat (23/7), harga beras di tingkat petani Lempuing minimal Rp 5.000 per kilogram.
Saat ini tanaman padi di Lempuing sejak dua pekan lalu berlangsung musim panen masa tanam gadu (kedua). Menurut Mindari (30), petani di Desa Tebing Suluh, selama panen gadu, harga beras di petani terus meningkat dari Rp 4.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 5.000.
”Belum pernah harga beras di tingkat petani saat panen mencapai Rp 5.000 per kg, kecuali saat musim paceklik bisa Rp 6.000. Setiap panen, harga beras petani paling tinggi Rp 4.000-Rp 4.200 per kg,” kata Mindari.
Rohani (30), petani di Desa Tugu Agung, menambahkan, curah hujan yang tinggi tahun ini menguntungkan petani karena bisa panen dua kali setahun. Biasanya petani di desa itu dan desa lain di Lempuing hanya panen sekali dalam satu tahun karena sawah tadah hujan.
”Baru tahun ini petani di desa kami bisa panen dua kali setahun. Petani bersyukur tahun ini hujan turun terus-menerus dan harga beras sedang naik,” kata Rohani.
Menurut Feri (30), pemilik penggilingan padi di Desa Tugu Agung, harga beras di tempat penggilingannya sudah Rp 5.200 per kg. Tiga hari sebelumnya masih Rp 5.000.
Di pasar tradisional di Palembang, harga beras Rp 6.500- Rp 7.500 per kg.
Harga beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pun tetap tinggi, Rp 5.800-Rp 6.200 per kg. Padahal, panen padi musim gadu mulai luas. Data Dinas Pertanian Karawang menunjukkan, areal panen sudah mencapai 9.187 hektar, dengan produktivitas rata-rata 7,32 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Panen sebelumnya (musim rendeng/musim tanam 2009/2010) seluas 97.385 hektar dengan produktivitas 7,14 ton GKP per hektar.
Sementara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menambah rute penyeberangan dari Pelabuhan Tanjung Bira menuju Kepulauan Selayar untuk mengatasi terganggunya distribusi kebutuhan pokok ke Selayar akibat cuaca buruk. (wad/mkn/riz)

Sumber : Kompas 24 Juli 2010